Menuju Danau Tertinggi di Pulau Jawa

Sore itu hari jum’at tanggal 28 Juli 2013 tak disangka acara untuk jadi sopir dibatalkan secara mendadak. Dengan semangat tanggal tua bergegas ke tempat persewaan alat camping bersama seorang teman. Yah dengan sangat ngebet kami akan membuat perhitungan dengan keinginan kami yang telah lama terpendam untuk naik ke gunung Semeru. Bukan ke puncak karena menurut perhitungan fengsui kami waktunya kurang tepat karena kalo ke puncak perlu 4 hari sementara kami cuma mau ijin ga masuk kerja 1 hari (hari sabtu saja). Ya, paling tidak kami ingin sampai ke danau Kumbolo atau disebut orang ranu Kumbolo. Jangan salah sangka ini tidak ada kaitannya dengan empu Ranu Baya (bapaknya Arya Kamandanu pemilik pedang Naga Puspa). Ranu di sini artinya danau, kalau ranu dalam nama Ranu Baya saya belum tau artinya.

Ok, mari kita tinggalkan Empu Ranu Baya di desa Kurasan. Selepas bayar sewa 1 tenda untuk 3 orang, 3 sleeping back, 2 carier, 3 jacket, 1 kompor, 1 set alat masak dan 3 matras seharga total Rp.474.000,- untuk 2 hari kami berangkat pukul 02.00 WIB dari Surabaya menuju terminal Arjosari Malang. Sampai Arjosari pukul 04.00 WIB untuk sholat dan mandi.

masih pada ngantuk, tidur di bis belum puas kok udah sampai...

masih pada ngantuk, tidur di bis belum puas kok udah sampai…

Di Arjosari kami mencari angkot TA warna putih menuju Tumpang. Jam 5an kami temukan angkot TA warnanya putih, perjalanan sekitar 1 jam melewati jalan aspal bagus kiri kanan wilayah pedesaan.

baru saya tau TA itu singkatan Tumpang-Arjosari

baru saya tau TA itu singkatan Tumpang-Arjosari

Sesampai di Tumpang kami mencari truk sayur untuk menuju Ranu Pani. Sebetulnya ada angkutan lain yaitu kendaraan Land Rover yang juga banyak disewakan dengan harga Rp.700.000,- untuk sekali jalan. Tapi berhubung kami ingat nasehat bui guru yang berbunyi “hemat pangkal kaya” kami lebih numpang truk sayur saja yang biayanya lebih murah. kami per kepala dikenai biaya Rp.35.000,- sampai Ranu Pani. Akhirnya kami temukan truk sayur di belakang terminal tumpang tepatnya di pasar Tumpang di depan posko para petualang

tanya-tanya di posko tumpang

tanya-tanya di posko tumpang

Gara-gara nunggu tumpangan penuh kami terlambat berangkat dari jadwal yang kami buat. Ya beginilah resikonya naik truk kalo naik jeep mungkin bisa langsung jalan. Kami berangkat dari Tumpang jam 08.00 WIB, melalui jalan yang awalnya aspal halus, beton ada yang jalan yang ga enak juga. pemandangan sangat indah, bisa lihat bukit teletubies…..(keingat bentuk perut siomai dan pipi bakpao)

rimbunnnya perjalanan

rimbunnnya perjalanan

???????????????????????????????

kebun sayur

kebun sayur

bukit teletubies

bukit teletubies

Sekitar 2 jam perjalanan akhirnya sampai ranu pani. Turun truk sayur mampir cuci muka terus ke perijinan. Syarat dapat ijin menyerahkan photocopy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Untungnya kami sudah dewasa jadi sudah punya KTP, E-KTP pula. yang belum dewasa kasian dech lo!!! (pengucapannnya harus pake nada gaul tahun 2000-an).

turun truk di ranu pani

turun truk di ranu pani

nampang sambil ngemil biar kuat nanjak

nampang sambil ngemil biar kuat nanjak

tempat perijinan

tempat perijinan

Setelah nunggu diijinkan akhirnya kami berangkat pukul 11.15 WIB, matahari yang hari itu tersenyum lebar tak terasa panasnya karena sejuknya hawa di kaki gunung Semeru ini. Awalnya jalan aspal menurun di sisi persawahan sayur selanjutnya jalan paving tanah menanjak. Awalnya perjalanan begitu indah kami tampil perkasa dengan carier masing-masing tapi lama-kelamaan perjalanan begitu menyiksa, beban berat dan jalan nanjak belum lagi perut lapar. Tidak dipungkiri ini perjalanan naik gunung pertama bagi dua orang diantara kami.

minum dulu

minum dulu

lanjuttt

lanjuttt

sampai landengan dowo

sampai landengan dowo

istirahat lagi

istirahat lagi

lihat pemandangan

lihat pemandangan

lagi-lagi istirahat

lagi-lagi istirahat

pos tiga dan tanjakannya

pos tiga dan tanjakannya

memang acara utamanya istirahat

memang acara utamanya istirahat

Karena banyak istirahatnya perjalanan yang seharusnya 4 jam kami tempuh sampai 6 jam. jam 5 selepas tanjakan pos 3 hujan mengguyur seakan alam ikut menangisi penderitaan kami. selanjutnya kabut tebal menghadang jalan kami, kami harus sangat berhati-hati karena jalan licin dan harus meraba. Sungguh jalan gelap bukan termasuk dalam rencana jadi kami tidak siap. Lampu senter kami cari dalam tas cuma ketemu 1 padah kami bertiga . beberapa kali terpleset dengan hati-hati pegangan rerumputan agar tak perosok ke jurang. Akhirnya jam 6-an kami melihat kelap-kelip di samping kiri bawah. Rupanya kami telah sampai di atas ranu Kumbolo. Lumayan agak lega, tapi masih ragu-ragu harus senang atau waspada, kami putuskan senang-senangnya diundur dulu, kami cari jalan turun dulu. Akhirnya dalam kegelapan ketemu juga. jalan menurun licin…gelap berbonus licin….(maaf tidak ada gambarnya, saat itu tidak kepikiran foto-foto). Anggota kami sampai         menyumpah ga usah ke sini lagi, kapok…….. 😀

Setelah sampai di bawah tak buang waktu pilih tempat lapang lalu mendirikan tenda, sholat jamak isya lalu dilanjutkan acara favorite : membuka logistik.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????Malam kami lewati dengan mengendarai sleeping bag dalam tenda tapi tetep saja dingin 🙂

Paginya, wah…..semalam memang gelap jadi keindahan ranu kumbolo tidak terlihat tapi pagi ini sungguh mengesankan. Tenda kami berdiri tepat di sampingnya sungguh bagaikan sepasang pengantin, tenda dan danau (kedengarannya maksa banget ya? biarin!!!) Banyak sekali tenda berdiri di sini. mencar-mencar, danau yang dingin mengeluarkan uap bagaikan mendidih, banyak ikan kecil-kecil juga. Tak tau kenapa ikan ga kedinginan padahal ga pakai sleeping bag, sudahlah tak usah dipikirkan… kita nikmati saja suasana pagi Ranu Kumbolo

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kami juga dapat melihat tanjakan cinta yang melegenda itu

kelihatan di belakang itu tanjakan cinta

kelihatan di belakang itu tanjakan cinta

lumayan jauh dari tanjakan cinta, di dekat tenda kami terlihat jalan turun yang membuat terpleset kami semalam. Keren juga, ini kami namakan saja “turunan asmara”

turunan asmara dilihat dari bawah

turunan asmara dilihat dari bawah

Setelah puas lihat-lihat, kami buat sarapan dan packing untuk pulang. Bawaan tetap berat, tapi kondisi belum pulih belum lagi ada anggota yang cidera karena terpleset di turunan asmara semalam. hingga di putuskan untuk sewa porter untuk bawa turun bawaan. Kami temukan groupnya mas Elpin. dengan biaya Rp.150.000,- per carier.

bersama porter

bersama porter

porter berangkat duluan lewat ayek-ayek

porter berangkat duluan lewat ayek-ayek

Kami dengan porter mengambil jalur berbeda, mereka lewat ayek-ayek konon jalurnya nanjak 1 km seperti di pos 3 tapi jaraknya lebih pendek sedang kami mengambil jalur konvensional saja. Bukan karena menganut status quo tapi … napas tua lagi tak bersahabat.

Jam 8  kami berangkat, kami punya ritual sendiri – sendiri untuk mengucapkan salam perpisahan pada ranu kumbolo

bongkar tenda dulu

bongkar tenda dulu

bertiga

bertiga

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kami pasti akan kembali…… (padahal semalam ada ngomong ga akan mau kembali). Kami juga mengucapkan selamat tinggal untuk turunan asmara

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

Tapi kalo mengenai turunan ini kami ga akan lewat sini lagi, kami bersumpah karena setelah terang sudah kami temukan jalan yang lebih baik…. 😀

 

Iklan

liburan akhir tahun kampung halaman part II,eksotisnya Wediombo

 Baik teman, dipenghujung liburan penulis melakukan perjalanan kembali, lumayan jauh kira-kira 110 Km PP atau totalnya kira-kira 220 km yaitu ke kawasan wisata yang belum banyak di kenal orang di kabupaten Gunung Kkidul, kawasan wisata pantai yang masih perawan Wediombo.  Wisata pantai yang jaraknya sekitar 40 Km dari kota Wonosari Gunung Kidul tepatnya terletak di Girisubo, Semanu. Perjalanan menggunakan 2 motor yaitu supra fit product Honda dan Pulsar 180 UG4 product perusahaan otomotive dari India kami tempuh kira-kira 3 jam.

??????????

mau memasuki gunung kidul

??????????

Jalan Masuk Girisubo

Perjalanan yang lumayan jauh dengan rute berkelok dan naik turun cukup untuk menguji kemampuan berkendara, tidak bisa terlalu kencang karena masuk gunung kidul sendiri lumayan ramai mengingat juga jalur menuju Jawa timur via Wonosobo-Pacitan ini bayak dilalui orang-orang yang akan liburan atau merayakan Tahun baru. Namun, setelah masuk girisubo jalanan sepi, kami disuguhi pemandangan hijau dan kadang bebatuan gamping.

Setelah kira-kira 3 jam dan mengikuti CPS (Cangkem Position System) alias tanya-tanya akhirnya kami sampai juga di kawasan wediombo.

??????????

Setelah melewati pintu restribusi dan membayar Rp.3000,- per jiwa kami melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 1 km lagi menuju pantai. Keterangan dari petugas restribusi menyebutkan bahwa kawasan wediombo dikelola oleh Pemerintah Daerah Gunung Kidul, dan mendekati Tahun baru kawasan ini  semakin ramai dikunjungi.

??????????

patok di depan pos restribusi menunjukkan jarak ke Jogja 76 Km

Setelah sampai kami disambut oleh lahan parkir yang lumayan luas, pantai terletak di bawah jadi kami harus melewati tangga yang cukup curam.

??????????

Parkiran Wediombo

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Tangga menuju pantai

Setelah dibawah kami disuguhi dengan pemandangan hijau ladang dan persawahan, rupanya di sini merupakan kawasan subur, tanaman yang ada meliputi kelapa, jagung, padi, banyak juga pohon jati, ketepeng dan lain-lain.

??????????

Jalan menuju pantai

Dan setibanya di pantai, rasanya lenyap sudah rasa lelah karena perjalanan jauh, pasir putih, karang dan rerimbunan di pinggir pantai cukup indah. Anggota ekspedisi kami kali ini malah mengatakan “seperti di Bali”

??????????

Air Laut yang jernih

??????????

Dedaunan rimbun sampai bibir pantai

??????????

??????????

Menyempatkan Pose

??????????

Rerimbunan pepohonan untuk gadis-gadis yang takut kulitnya hitam, kalo cowok takut hitam sekalian aja pakai rok 😀

??????????

??????????

??????????

??????????