Menuju Coban Glotak, keindahan yang disembunyikan Gunung Kawi

pos masuk coban glotak

pos masuk coban glotak

Well, liburan hari raya Idhul Fitri belum habis tapi ajakan berpetualang kembali menggoda untuk kembali ke Surabaya. Setelah berjuang mengarungi kemacetan dari jogja-Surabaya akhirnya sampai kost Jum’at 1 agustus 2014 jam 22.15 malam. Segera menyiapkan persiapan untuk camping esok harinya. sabtu 2 Agustus 2014 Pukul 05.00 pagi waktu Surabaya akhirnya kami berangkat bertiga menuju kota Malang menggunakan 1 Honda Vario helm in dan 1 Honda Supra X helm in.

Sesampainya di Malang kami mampir dulu ke persewaan alat camping di jl Kedawung (nama tempatnya sengaja dirahasiakan, enak aja numpang tenar nanti 😀 ) untuk ambil alat camping yang sudah booking sebelumnya. jam 9-an kita berangkat menuju Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang langsung arah desa Bedalisodo tempat coban glotak berada.

Setelah sampai perkampungan terakhir di kaki gunung kawi, kami tanya-tanya untuk parkirnya, kami dapat info bahwa di atas sudah ada loket dan ada tempat parkirnya (info sebelumnya belum ada loketnya) cuma sayangnya tempat parkir yang di atas cuma sampai jam 5 sore untuk parkir menginap harus dititipkan di rumah warga. Di rumah agak atas mendekati rumah terakhir akhirnya kami dipersilahkan untuk menitipkan sepeda, yang punya rumah sangat ramah, kami sempat dibuatkan kopi dan disuguhi camilan lebaran. Beliau banyak cerita panjang lebar tentang cobanj glotak dan pengunjungnya.

ngopi di rumah tempat menitipkan sepeda

setelah banyak ngobrol ngalor ngidul jam 10an kita berangkat, menyusuri jalan berbatu dan dengan kira kanan lahan pertanian cabe rawit dan pohon-pohonan. Jalan kaki kira – kira 1 km menanjak.

IMG-20140803-WA0001

jalan dari desa terakhir menuju loket

jalan dari desa terakhir menuju loket

beberapa kali berpapasan dengan penduduk lokal yang mengangkut hasil panen dan kayu menggunakan sepeda motor, mereka sangat ramah ditambah pemandangan indah dan udara segar menambah semangat kami 😀

tak berapa lama kami tiba di loket masuk dan harus membayar Rp.4000,- rupiah per orang. Tapi sebelum masuk kami penasaran untuk mengicipi gorengan di warung dekat loket, cabenya metik sendiri di tegal samping warung.

warung dekat loket masuk

warung dekat loket masuk

disamping makan di warung kami juga sempat ngobrol sama petugas loketnya bahwa kawasan boban glotak masih dikelola perhutani.

ngobrol lagi, biar dapat potongan harga ticket :D

ngobrol lagi, biar dapat potongan harga ticket 😀

perjalanan dilanjutkan

perjalanan dilanjutkan

Setelah bayar ticket masuk kami lanjutkan perjalanan, awalnya jalanan halus menurun enak dilalui tapi lama kelamaan jalan tambah ekstreem saja, melewati bebatuan, semak-semak tinggi dan beberapa kali ketemu jalan longsong yang diberi pengaman seadanya.

jalan yang longsor diberi pengaman dari kayu hutan

jalan yang longsor diberi pengaman dari kayu hutan

warung terakhir di perjalanan setelah loket

warung terakhir di perjalanan setelah loket

jalan berbatu menurun

jalan berbatu menurun

menyusuri sungai

menyusuri sungai

selang kira-kira satu jam kami akhirnya sampai di air terjun yang disebut oleh masyarakat setempat disebut coban glotak. Disebut glotak karena sering terdengar bunyi glotak-glotak di air terjun disebabkan oleh bebatuan yang ikut jatuh bersama air. Oleh karena itu tidak disarankan mandi tepat di bawah air terjun karena berbahaya.

sampai di air terjun ada teman yang nyusul, jadi kut photo

sampai di air terjun ada teman yang nyusul, jadi kut photo

coban glotak

coban glotak

puas menikmati air terjun dan istirahat sejenak selanjutnya kami mencari tempat untuk mendirikan tenda, cukup sulit untuk cari tempat yang pas, mengingat memang masih alami sehingga kurang tersedia tanah lapang, akhirnya aku menemukan di dekat sungai namun di area bebatuan terbayang nanti malam tidur dengan lantai tidak rata

pilih tempat mendirikan tenda, yang paling bagus lokasinya pun tidak enak untuk tidur (bebatuan)

pilih tempat mendirikan tenda, yang paling bagus lokasinya pun tidak enak untuk tidur (bebatuan)

mendirikan tenda

mendirikan tenda

lokasi yang sip, bisa lihat air terjun dari dalam tenda

lokasi yang sip, bisa lihat air terjun dari dalam tenda

nampang ah

nampang ah

sekitar jam 16.00 sudah tidak ada lagi pengunjung yang datang tinggal kami bertiga, seorang teman dan rombongannya pun juga sudah pulang (yeah cuma nunut photo doang). Jadi bisa dibayangkan 3 insan hidup berserakan di tengah hutan sendirian. Ternyata hawa dingin menghalangi melaksanakan niat untuk mandi setelah sepi, wudlu untuk sholat magrib pun dilakukan jam 5 karena udah dingin sekali, terpaksa deh dari jam 5  sampai magrib untuk nahan kentut 😀

Karena Isya’ tidak memungkinkan untuk wudlu lagi karena dingin dan gelap saat harus menuruni sungai dengan jalan yang terjal maka kami sepakat untuk dijamak saja, malam hari kami isi dengan makan buat malam dan nyamil hahaha….

buka logistik

buka logistik, terlihat lantai selalu basah karena titik air Coban Glotak.

Jam 7 kami sudah terlelap dalam gelap dinginnya alam, sempat terbangun dan liat luar tenda sangat gelap sampai semak-semak di depan tenda tidak terlihat sama sekali ketika pintu tenda dibuka.

Esoknya pagi yang indah menyambut kami, dingin tapi segar. Mandi di sungai dan buat sarapan acaranya, selanjutnya cabut tenda dan kembali ke surabaya pukul 9 pagi.

mandi di sungai

mandi di sungai

hoaaahhhmmmm...

hoaaahhhmmmm…

bangun tidur cari camilan

bangun tidur cari camilan

subuhnya kesiangan

subuhnya kesiangan

menikmati pagi

menikmati pagi

masak sarapan

masak sarapan

masak sarapan

masak sarapan

packing mau pulang

packing mau pulang

 

liat air

ucapkan selamat tinggal coban glotak

pejalanan sungguh indah di pagi hari kami mampir lagi di warung dekat loket masuk dan menikmati minum degan

degan yang nikmat

degan yang nikmat

Iklan

Menuju Danau Tertinggi di Pulau Jawa

Sore itu hari jum’at tanggal 28 Juli 2013 tak disangka acara untuk jadi sopir dibatalkan secara mendadak. Dengan semangat tanggal tua bergegas ke tempat persewaan alat camping bersama seorang teman. Yah dengan sangat ngebet kami akan membuat perhitungan dengan keinginan kami yang telah lama terpendam untuk naik ke gunung Semeru. Bukan ke puncak karena menurut perhitungan fengsui kami waktunya kurang tepat karena kalo ke puncak perlu 4 hari sementara kami cuma mau ijin ga masuk kerja 1 hari (hari sabtu saja). Ya, paling tidak kami ingin sampai ke danau Kumbolo atau disebut orang ranu Kumbolo. Jangan salah sangka ini tidak ada kaitannya dengan empu Ranu Baya (bapaknya Arya Kamandanu pemilik pedang Naga Puspa). Ranu di sini artinya danau, kalau ranu dalam nama Ranu Baya saya belum tau artinya.

Ok, mari kita tinggalkan Empu Ranu Baya di desa Kurasan. Selepas bayar sewa 1 tenda untuk 3 orang, 3 sleeping back, 2 carier, 3 jacket, 1 kompor, 1 set alat masak dan 3 matras seharga total Rp.474.000,- untuk 2 hari kami berangkat pukul 02.00 WIB dari Surabaya menuju terminal Arjosari Malang. Sampai Arjosari pukul 04.00 WIB untuk sholat dan mandi.

masih pada ngantuk, tidur di bis belum puas kok udah sampai...

masih pada ngantuk, tidur di bis belum puas kok udah sampai…

Di Arjosari kami mencari angkot TA warna putih menuju Tumpang. Jam 5an kami temukan angkot TA warnanya putih, perjalanan sekitar 1 jam melewati jalan aspal bagus kiri kanan wilayah pedesaan.

baru saya tau TA itu singkatan Tumpang-Arjosari

baru saya tau TA itu singkatan Tumpang-Arjosari

Sesampai di Tumpang kami mencari truk sayur untuk menuju Ranu Pani. Sebetulnya ada angkutan lain yaitu kendaraan Land Rover yang juga banyak disewakan dengan harga Rp.700.000,- untuk sekali jalan. Tapi berhubung kami ingat nasehat bui guru yang berbunyi “hemat pangkal kaya” kami lebih numpang truk sayur saja yang biayanya lebih murah. kami per kepala dikenai biaya Rp.35.000,- sampai Ranu Pani. Akhirnya kami temukan truk sayur di belakang terminal tumpang tepatnya di pasar Tumpang di depan posko para petualang

tanya-tanya di posko tumpang

tanya-tanya di posko tumpang

Gara-gara nunggu tumpangan penuh kami terlambat berangkat dari jadwal yang kami buat. Ya beginilah resikonya naik truk kalo naik jeep mungkin bisa langsung jalan. Kami berangkat dari Tumpang jam 08.00 WIB, melalui jalan yang awalnya aspal halus, beton ada yang jalan yang ga enak juga. pemandangan sangat indah, bisa lihat bukit teletubies…..(keingat bentuk perut siomai dan pipi bakpao)

rimbunnnya perjalanan

rimbunnnya perjalanan

???????????????????????????????

kebun sayur

kebun sayur

bukit teletubies

bukit teletubies

Sekitar 2 jam perjalanan akhirnya sampai ranu pani. Turun truk sayur mampir cuci muka terus ke perijinan. Syarat dapat ijin menyerahkan photocopy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Untungnya kami sudah dewasa jadi sudah punya KTP, E-KTP pula. yang belum dewasa kasian dech lo!!! (pengucapannnya harus pake nada gaul tahun 2000-an).

turun truk di ranu pani

turun truk di ranu pani

nampang sambil ngemil biar kuat nanjak

nampang sambil ngemil biar kuat nanjak

tempat perijinan

tempat perijinan

Setelah nunggu diijinkan akhirnya kami berangkat pukul 11.15 WIB, matahari yang hari itu tersenyum lebar tak terasa panasnya karena sejuknya hawa di kaki gunung Semeru ini. Awalnya jalan aspal menurun di sisi persawahan sayur selanjutnya jalan paving tanah menanjak. Awalnya perjalanan begitu indah kami tampil perkasa dengan carier masing-masing tapi lama-kelamaan perjalanan begitu menyiksa, beban berat dan jalan nanjak belum lagi perut lapar. Tidak dipungkiri ini perjalanan naik gunung pertama bagi dua orang diantara kami.

minum dulu

minum dulu

lanjuttt

lanjuttt

sampai landengan dowo

sampai landengan dowo

istirahat lagi

istirahat lagi

lihat pemandangan

lihat pemandangan

lagi-lagi istirahat

lagi-lagi istirahat

pos tiga dan tanjakannya

pos tiga dan tanjakannya

memang acara utamanya istirahat

memang acara utamanya istirahat

Karena banyak istirahatnya perjalanan yang seharusnya 4 jam kami tempuh sampai 6 jam. jam 5 selepas tanjakan pos 3 hujan mengguyur seakan alam ikut menangisi penderitaan kami. selanjutnya kabut tebal menghadang jalan kami, kami harus sangat berhati-hati karena jalan licin dan harus meraba. Sungguh jalan gelap bukan termasuk dalam rencana jadi kami tidak siap. Lampu senter kami cari dalam tas cuma ketemu 1 padah kami bertiga . beberapa kali terpleset dengan hati-hati pegangan rerumputan agar tak perosok ke jurang. Akhirnya jam 6-an kami melihat kelap-kelip di samping kiri bawah. Rupanya kami telah sampai di atas ranu Kumbolo. Lumayan agak lega, tapi masih ragu-ragu harus senang atau waspada, kami putuskan senang-senangnya diundur dulu, kami cari jalan turun dulu. Akhirnya dalam kegelapan ketemu juga. jalan menurun licin…gelap berbonus licin….(maaf tidak ada gambarnya, saat itu tidak kepikiran foto-foto). Anggota kami sampai         menyumpah ga usah ke sini lagi, kapok…….. 😀

Setelah sampai di bawah tak buang waktu pilih tempat lapang lalu mendirikan tenda, sholat jamak isya lalu dilanjutkan acara favorite : membuka logistik.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????Malam kami lewati dengan mengendarai sleeping bag dalam tenda tapi tetep saja dingin 🙂

Paginya, wah…..semalam memang gelap jadi keindahan ranu kumbolo tidak terlihat tapi pagi ini sungguh mengesankan. Tenda kami berdiri tepat di sampingnya sungguh bagaikan sepasang pengantin, tenda dan danau (kedengarannya maksa banget ya? biarin!!!) Banyak sekali tenda berdiri di sini. mencar-mencar, danau yang dingin mengeluarkan uap bagaikan mendidih, banyak ikan kecil-kecil juga. Tak tau kenapa ikan ga kedinginan padahal ga pakai sleeping bag, sudahlah tak usah dipikirkan… kita nikmati saja suasana pagi Ranu Kumbolo

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kami juga dapat melihat tanjakan cinta yang melegenda itu

kelihatan di belakang itu tanjakan cinta

kelihatan di belakang itu tanjakan cinta

lumayan jauh dari tanjakan cinta, di dekat tenda kami terlihat jalan turun yang membuat terpleset kami semalam. Keren juga, ini kami namakan saja “turunan asmara”

turunan asmara dilihat dari bawah

turunan asmara dilihat dari bawah

Setelah puas lihat-lihat, kami buat sarapan dan packing untuk pulang. Bawaan tetap berat, tapi kondisi belum pulih belum lagi ada anggota yang cidera karena terpleset di turunan asmara semalam. hingga di putuskan untuk sewa porter untuk bawa turun bawaan. Kami temukan groupnya mas Elpin. dengan biaya Rp.150.000,- per carier.

bersama porter

bersama porter

porter berangkat duluan lewat ayek-ayek

porter berangkat duluan lewat ayek-ayek

Kami dengan porter mengambil jalur berbeda, mereka lewat ayek-ayek konon jalurnya nanjak 1 km seperti di pos 3 tapi jaraknya lebih pendek sedang kami mengambil jalur konvensional saja. Bukan karena menganut status quo tapi … napas tua lagi tak bersahabat.

Jam 8  kami berangkat, kami punya ritual sendiri – sendiri untuk mengucapkan salam perpisahan pada ranu kumbolo

bongkar tenda dulu

bongkar tenda dulu

bertiga

bertiga

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kami pasti akan kembali…… (padahal semalam ada ngomong ga akan mau kembali). Kami juga mengucapkan selamat tinggal untuk turunan asmara

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

turunan asmara di lihat dari atas

Tapi kalo mengenai turunan ini kami ga akan lewat sini lagi, kami bersumpah karena setelah terang sudah kami temukan jalan yang lebih baik…. 😀

 

akhirnya bapakku punya mantu

sebuah perputaran hidup, lahir nikah terus melanjuttkan kehidupan (punya anak) begitu seterusnya.

Dan kadang hidup tak sesuai dengan rumus ilmiah, kadang semua datang tidak berurutan. hari ini pun begitu, adikku no 2 duluan menikah. Jadi memang kami lahir berurutan tapi nikah tak harus berurutan.

Selain mengucapkan selamat untuk adikku ini aku juga ingin mengucapkan selamat untuk kedua orang tuaku akhirnya punya mantu (ada anak wedok juga di rumah) 🙂hidup baru

Triple Touring Surabaya – Madura

Yup, setelah 2 minggu turun dari plesir kawah ijen banyuwangi rasanya sindrom pengen dolan kambuh lagi. Sempat kepikiran ke mana enaknya ? karena kantong juga lagi tipis. rembug-rembug akhirnya ngajak teman-teman naik motor aja ke hutan mangrof wonorejo  masih didaerah surabaya timur.

Jalan menuju ke sana tidak terlalu bagus, jalan yang tadinya aspal mulus semakin ke timur jalan berlubang. setelah memasuki jalan tanah dan kiri kanan tanaman bakau akhirnya sampai di parkiran.

ada dua pilihan, naik perahu atau ke timur jalan kaki. kami memilih jalan kaki menyusuri hutan bakau. Suasana asri, sejuk dan rindang.

photo-photo di mangrove wonorejo

photo-photo di mangrove wonorejo

jalan-jalan di mangrove

jalan-jalan di mangrove

Setelah puas jalan-jalan kita niat cari makan siang di bebek Sinjay Madura, segera kami bergegas menuju jembatan suramadu. Suramadu siang itu terlihat begitu gagah diterpa sinar matahari, seolah angkuh berdiri diantara dua pulau Jawa dan pulau Madura.

dengan membayar tarif TOL Rp.3000,- / motor  Kami melewati Suramadu yang kadang ditutup karena angin kencang ini dengan tenang karena angin sedang bersahabat. Cuaca dari Surabaya panas tapi tiba di Madura mendung gelap.

masuk Madura disambut awan gelap

masuk Madura disambut awan gelap

 

Setelah menempuh jarak kira -kira 15 km dari turun jembatan Suramadu dan berjuang menerjang badai …… eh enggak ding cuma hujan deras aja ketemu juga tempat bebek di goreng untuk makan siang itu.

makan siang sambil rapat  komisaris

makan siang sambil rapat komisaris

antri bayar

antri bayar

tiba di warung

tiba di warung

 

Uniknya makan di sini mengikuti kebiasaan bebek yaitu antri. Kami harus antri dua kali. Antri pertama untuk pesan dan bayar, antri kedua untuk ambil minum dan menyerahkan nota yang sudah dibayar, selanjutnya makanan diantar oleh petugas. Makanannya lumayan enak, 5 porsi ada tambahan jerohan bebek. Pas kami di sana banyak sekali POLISI, ternyata ada mantan Ka.POLRI yang juga makan di situ, pakai batik merah dia. Siapakah dia? ayo tebak!!!!

Setelah kenyang kita berangkat lagi pulang Surabaya, ada dua pilihan balik lagi lewat Suramadu dengan jarak 15 km atau naik ferry penyebrangan dengan jarak dari warung bebek ke dermaga sekitar 20 km. Akhirnya kami memilih naik ferry aja biar jalan-jalannya tambah jauh.

perjalanan menuju dermaga

perjalanan menuju dermaga

perjalanan menuju dermaga disuguhi dengan kawasan asri dan basah karena habis hujan.

 

setelah sekitar 20 km dan sempat berhenti untuk sholat dhuhur akhirnya tiba di dermaga. Kali ini tarif ferrynya Rp. 5.800,- / motor (single rider) dan Rp. 10.000,-/ motor (berboncengan).  Wah mahal naik kapal…..

Langsung bayar dan geber menuju kapal ferry yang jalur penyebrangannya terletak di barat jembatan Suramadu.

kapal ferry

kapal ferry

jembatan suramadu kelihatan kecil

jembatan suramadu kelihatan kecil

di pintu ferry

di pintu ferry

nyebrang

nyebrang

lihat jembatan suramadu

lihat jembatan suramadu

Sampai surabaya sudah mau waktu Ashar, makanya kita segera cari masjid hingga diputuskan ke masjid Sunan Ampel sekalian ziarah mengingat mati agar lebih menghargai hidup.

masjid Sunan Ampel

masjid Sunan Ampel

kawasan makan sunan Ampel

kawasan makan sunan Ampel

Setelah sholat ashar kami meluncur ke pasar Blauran cari dawet dan nongkrong  menikmati jajanan pasar. Sungguh nikmat

nikmati bersama jajanan pasar

nikmati bersama jajanan pasar

ngecemut

ngecemut

Setelah puas dan kenyang dan capek kami pulang masing – masing dan tidur

 

 

Sebuah Perjalanan Menuju Kedinginan

mobil bermasalah, merem satu

mobil yang lama, mata kanannya merem

Itulah kalimat yang kukira pantas untuk menggambarkan tulisan ini. Iya, perjalanan dengan tujuan utama kawah Ijen yang terletak di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso sangatlah berliku. Dimulai pesan mobil sewaan Izusu elf, seharga 2jt rupiah untuk 2 hari sudah termasuk sopir dan BBM. Ternyata mobil yang datang beda dengan yang kami pesan. mobilnya mirip angkot yang melayani surabaya-sidoarjo cuma dipasang AC ala kadarnya dan rasanya tetap aja panas di dalam kabin ketika kami berangkat jam 5 sore dari Sidoarjo tempat kami bekerja. Akhirnya kekhawatiran itu ada jawabannya, sampai di Nguling masuk kabupaten Pasuruan  masalah datang, tidak tau karena mobil tersebut ngantuk, mata sebelah kanannya terpejam ngga mau nyala. Kalau soal AC yang ngga dingin kami masih bisa terima kami bisa lepas baju, tapi ini lampu depan sebelah kanan pula terpaksa dengan  sadis aku telpon rental mobilnya maksa ganti pokoknya entah gmana caranya, suruh nyusul ke Pasuruan entah pake helikopter, dikirim lewat POS atau via sms.

Akhirnya yang punya rental baru sadar yang dihadapi konsumen yang sadis dan crewet makanya dia ngalah dan bersedia ganti mobil 🙂 Dan perjalanan dilanjutkan kembali pukul 11 malam melalui kumitir.

Jam 4 pagi kami singgah sebentar di rumah teman dan selanjutnya mau mandi di pantai pulau merah, kenapa dinamai pulau merah? aku juga tidak tau. Bila ada yang tau silahkan comment beritau aku biar tulisan ini lebih lengkap! 🙂

Berangkat menuju pulau merah diwarnai insiden mobil lagi, kali ini mogok. Yah olah raga pagi kami kali ini adalha dorong mobil.

dorong mobil

dorong mobil

Sebelum naik gunung mandi air laut terasa segar. Menurut laporan International Journal of Dermatology, mandi garam laut menghambat gejala yang terkait dengan penyakit inflamasi.

Garam laut bersifat hidrat dan melembutkan kulit untuk meningkatkan fungsi penghalang pelindung kulit. Mandi garam laut dapat membantu meringankan nyeri otot dan nyeri serta berguna dalam memerangi stres dan menenangkan saraf. Hal itu berhubungan dengan persiapan mau naik gunung, entalah soalnya datang ke pantai hanya pengen aja 😀

mandi di laut sebelum naik malamnya

mandi di laut sebelum naik malamnya

Mandi di pantai selain bermanfaat ternyata membuat capek. dan ternyata capek itu masih kurang karena musibah mobil masih akrab dengan kami, kali ini gantian roda yang sobek

roda yang sobek

roda yang sobek

ganti roda belang

ganti roda belakang

Sebuah analisis dilakukan dan terori ditemukan atas sobeknya roda belakang sebelah kanan ini, bahwa sobeknya roda belakang ini dikarenakan beratnya muatan karena penumpangnya banyak makan hahahaha… 😀

acara utama

acara utama

Setelah ganti roda menggunakan Dunlop Tubles perjalanan berlanjut menuju rumah teman, makan dilanjut nonton X-factor. Tapi berhubung kecapekan acara berubah menjadi tidur bareng di depan TV. Jam 10 malam kami dibangunkan siap-siap berangkat ke kawasan Ijen. Dengan nyawa belum terlalu lengkap kami pamitan dengan yang punya rumah menuju mobil, selanjutnya acara tidur dilanjutkan di dalam mobil. Kelancaran tidur kami serahkan pada nyamannnya cara mengendarai sopir kami yang ternyata tak nyaman.

Jam 2 malam kami tiba di Paltuding, parkiran kendaraan. Suasana masih gelap ada 6 mobil beberapa sepeda motor. Kami bagai densus 88 yang mengendap-endap merasakan dinginnya susana alam sambil ucek-ucek mata bangun tidur. Karena terasa tidak terlalu dingin anggota team kami banyak yang tidak melengkapi diri dengan penghangat tubuh, malah ada yang pake kaos, celana pendek dan topi saja karena dipikir-pikir di atas nanti mungkin lebih panas.

di parkiran mengumpulkan nyawa dulu

di parkiran mengumpulkan nyawa dulu

begitulah kira-kira

begitulah kira-kira

Karena memburu blue fire jam itu juga kami berangkat, suasana gelap berjalan beriringan 9 orang naik gunung mirip team pemburu hantu. sering berhenti untuk mengambil napas maklum tampang BMW napas andong.

istirahat, berharap ada tukang bakso lewat.... baru sadar kita adfa dilereng gunung bro, mana ada tukang bakso?!

istirahat, berharap ada tukang bakso lewat…. baru sadar kita adfa dilereng gunung bro, mana ada tukang bakso?!

Akibatnya, walaupun di itung-itung kami berangkat naik duluan tapi disalip rombongan-rombongan yang berangkat belakangan. Setelah 2 jam mendaki sambil tersengal-sengal karena kami sebenarnya bukan biasa pendaki akhirnya sampai juga di atas. Kami segera tengak-tengok yang namanya blue fire itu mana to? karena ngga tau ikuti orang banyak ajalah. Ternyata benar orang-orang itu menuntun kami ke penampakan blue fire dan ternyata letaknya jaauuuuuuhhhhh banget di bawah di dekat kawah, kamera saku kami ngga bisa menangkapnya, maklum wisatawan modal cekak, camera cukup murahan aja. Karena ngga bisa photo-photo dengan background blue fire ya kami duduk aja liatin dari atas.

nonton bareng blue fire, seperti pengungsi perang

nonton bareng blue fire, seperti pengungsi perang

Tak beberapa lama nongkrong tiba-tiba terasa hawa dingin menusuk tulang, ternyata kabar bahwa di atas lebih hangat adalah cuma isu. Saya yang cuma pake celana pendek kaos dan sandal gunung menggigil, segera cari mantel yang biasa untuk dipakai naik motor saat hujan. Itu pun belum cukup membantu, kucari batu besar sembunyi bareng teman lain.

seperti tape dibungkus plastik

seperti tape dibungkus plastik

Tapi mendekati pagi semakin hangat, kami keluar ahaaaa……. ketemu bule. dan ternyata wisatawan lebih banyak yang import dari dapa lokal

liat kawah saat terang

liat kawah saat terang

berjemur biar anget

berjemur biar anget

salah satu crew kami ngajak photo bule, cakep mana coba?

salah satu crew kami ngajak photo bule, cakep mana coba?

bule lokal vs bule import

bule lokal vs bule import

milih suvenir belerang padat

milih suvenir belerang padat

Jam 7 pagi matahari mulai bersinar membuat uap belerang semakin banyak membuat mata pedes dan napas ngga enak. Kami bergegas turun, pemandangan yang waktu naik tidak terlihat pas turunnnya kini terlihat indah.

suasana turun

suasana turun

turunnya lebih cepat 1,5 jam. ada insiden kepleset juga karena jalan berpasir, sasampainya di pintu gerbang kami lihat tulisan ini

??????????hahahahahaha…. 🙂

 

 

 

liburan akhir tahun kampung halaman part II,eksotisnya Wediombo

 Baik teman, dipenghujung liburan penulis melakukan perjalanan kembali, lumayan jauh kira-kira 110 Km PP atau totalnya kira-kira 220 km yaitu ke kawasan wisata yang belum banyak di kenal orang di kabupaten Gunung Kkidul, kawasan wisata pantai yang masih perawan Wediombo.  Wisata pantai yang jaraknya sekitar 40 Km dari kota Wonosari Gunung Kidul tepatnya terletak di Girisubo, Semanu. Perjalanan menggunakan 2 motor yaitu supra fit product Honda dan Pulsar 180 UG4 product perusahaan otomotive dari India kami tempuh kira-kira 3 jam.

??????????

mau memasuki gunung kidul

??????????

Jalan Masuk Girisubo

Perjalanan yang lumayan jauh dengan rute berkelok dan naik turun cukup untuk menguji kemampuan berkendara, tidak bisa terlalu kencang karena masuk gunung kidul sendiri lumayan ramai mengingat juga jalur menuju Jawa timur via Wonosobo-Pacitan ini bayak dilalui orang-orang yang akan liburan atau merayakan Tahun baru. Namun, setelah masuk girisubo jalanan sepi, kami disuguhi pemandangan hijau dan kadang bebatuan gamping.

Setelah kira-kira 3 jam dan mengikuti CPS (Cangkem Position System) alias tanya-tanya akhirnya kami sampai juga di kawasan wediombo.

??????????

Setelah melewati pintu restribusi dan membayar Rp.3000,- per jiwa kami melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 1 km lagi menuju pantai. Keterangan dari petugas restribusi menyebutkan bahwa kawasan wediombo dikelola oleh Pemerintah Daerah Gunung Kidul, dan mendekati Tahun baru kawasan ini  semakin ramai dikunjungi.

??????????

patok di depan pos restribusi menunjukkan jarak ke Jogja 76 Km

Setelah sampai kami disambut oleh lahan parkir yang lumayan luas, pantai terletak di bawah jadi kami harus melewati tangga yang cukup curam.

??????????

Parkiran Wediombo

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Pemandangan Laut dilihat dari tempat parkir

??????????

Tangga menuju pantai

Setelah dibawah kami disuguhi dengan pemandangan hijau ladang dan persawahan, rupanya di sini merupakan kawasan subur, tanaman yang ada meliputi kelapa, jagung, padi, banyak juga pohon jati, ketepeng dan lain-lain.

??????????

Jalan menuju pantai

Dan setibanya di pantai, rasanya lenyap sudah rasa lelah karena perjalanan jauh, pasir putih, karang dan rerimbunan di pinggir pantai cukup indah. Anggota ekspedisi kami kali ini malah mengatakan “seperti di Bali”

??????????

Air Laut yang jernih

??????????

Dedaunan rimbun sampai bibir pantai

??????????

??????????

Menyempatkan Pose

??????????

Rerimbunan pepohonan untuk gadis-gadis yang takut kulitnya hitam, kalo cowok takut hitam sekalian aja pakai rok 😀

??????????

??????????

??????????

??????????

 

 

 

liburan akhir tahun kampung halaman part I, pesona Kulon Progo

Tujuan utama bekerja adalah untuk kebahagiaan orang-orang di sekitar kita, jika kita terlalu asyik bekerja sehingga tidak punya waktu untuk orang-orang yang kita sayangi cobalah membuka kembali catatan niat kita, barangkali kita salah niat.” Itulah kira-kira yang pernah jadi perenungan ketika lama tidak pulang kampung di Jogja.

Akhirnya kesempatan itu tiba, akhir tahun ambil cuti. Ticket kereta api yang dipesan 40 hari sebelum keberangkatan sudah ditangan dan akhirnya sampai juga di daerah kekuasaan kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sampai langsung jalan-jalan maklum sudah lama. Kesan pertama rame karena mungkin bertepatan dengan liburan sekolah. DSCN6970

Berhubung macet tersebut kembali dari jalan-jalan memilih jalan memutar melewati pegunungan di utara kabupaten Kulon Progo dan ternyata salah jalan hahahaha…. tapi tidak terlalu kecewa tapi malah bersyukur karena bonusnya salah jalan disuguhi pemandangan yang bagus DSCN7004

 

proses tersesat

??????????

 

 

??????????

??????????

lewat kali progo

??????????

ketemu penjual benih tanaman

beli 3 batang benih Jati, @Rp.2.500,-

??????????

??????????

??????????

??????????

ada orang pacarannnya juga 🙂

??????????




??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

Sebenarnya pengen muter-muter lebih lama tapi sodah mulai sore dan sebentar lagi malam, dipikir juga terlalu berbahaya mengingat tidak menguasai medan dan terlihat di jalan minim penerangan jalan.

nha hari selanjutnya lanjut ke pantai glagah indah, sekitar 5 km dari rumah.

??????????

??????????

??????????

??????????

kali yang pada tahun 1996 kering bisa dilewati dengan jalan kaki bagaikan menyusuri padang pasir , kini berubah jadi danau yang digunakan untuk naikm perahu para wisatawan dan wisatawati 🙂

??????????

 

ombak pantai glagah memang selalu menwan

??????????

 

??????????

 

namun tidak lupa sunrise kidul omah penulis juga ikut tertangkap kamera

Foto0263

??????????