Hasil Renungan Mudik 1433 H

Gambar

Sampai suatu saat pohon terakhir ditebang dan sungai mengalirkan tetes terakhirnya manusia baru akan sadar hidup bukan hanya untuk uang. Mudik lebaran tahun 1433 H membuatku sadar akan kata-kata itu. Hidup di pedalaman gedung Surabaya berganti gemerlapnya hijau dedaunan kota sejuk Wates.

Di sini paru-paru terasa ringan menghirup udara yang kaya akan oksigen yang memang itu yang diperlukan tubuh, tidak seperti di jalanan Ahmad Yani, Diponegoro. Seakan hidung ini harus berebut udara dengan mesin kendaraan dan mesin industry untuk bertahan hidup. Yah, memang hidup itu ada saatnya berebut, dan kota adalah surga para penggemar kompetisi. Yang kuat yang menang, bukan yang banyak karena semakin banyak semakin kecil bagian. Tapi di sini berlaku “kamu terima aku beri, aku beri aku terima”. Guyup rukun toto tentrem kertoraharjo. Kapan bisa melewati waktu tanpa berebut di sini? Hanya kenangan kita saja yang ada di ingatan sebagai jawaban. Tapi aku tak menyesali kenangan itu, aku bangga melewatinya, bukankah kita bisa merangkai masa depan, aku sedang menunggumu siap untuk saat itu…….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s